Matahari sedikit demi sedikit, dengan izin Alloh Subhaanahu wa Ta’ala, mulai bersembuyi dari wilayah sekitar kita menuju tugasnya berikutnya, menerangi belahan bumi yang lain. Adzan Magrib berkumandang dan malam pun tiba. Bertepatan pada saat itu, kita dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa.
Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: "Senantiasa manusia berada didalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa" (HR: Al Bukhori dan Muslim).
Pada saat berbuka, kita disunnahkan untuk membatalkan puasa kita dengan kurma, baik yang basah maupun yang kering. Namun apabila tidak ada, maka kita berbuka dengan air sebagaimana kebiasaan Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Anas bin Malik rodhiyallahu 'anhu pernah bercerita, yang artinya: "Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam berbuka dengan kurma basah (ruthob) sebelum sholat. Aapabila tidak ada yang basah, maka beliau berbuka dengan kurma kering (tamr). Jika tidak ada juga, maka beliau minum dengan satu tegukan air" (HR: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, At-Tirmidzi. Sanad dishahihkan oleh Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali)
Setelah berbuka puasa secukupnya, hendaknya kita bersiap-siap untuk sholat maghrib, terutama bagi para lelaki agar segera menuju masjid/mushola untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Senantiasa kita memohon kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar berkenan memberikan kefahaman agama kepada kita dan agar memberikan bisikan ke dalam hati kita untuk dapat melaksanakannya. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan hamba-Nya. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab. mediaislam.info
Ada tiga kunci yang harus kita miliki untuk membangun kredibilitas. Itu ialah, jujur, cakap, dan kreatif-inovatif. Lalu, mengapa harus jujur? Logikanya, orang yang jujur tak mungkin berbohong. Apabila ia berkata A maka yang terlihat adalah A bukan B, C, D, dan seterusnya.Orang yang jujur mustahil munafik. Karena itu ia, selain tak mudah berbohong, ia pun akan berusaha menepati janji dan tergolong amanah. Dalam hal ini, kejujuran merupakan persoalan karakter. Sehingga untuk berlaku jujur dibutuhkan pembiasaan terutama sejak kecil. Jadi, apa salahnya bila kita jujur? Untuk menopang kejujuran jelas ada hal lain yang harus dipenuhi. Itulah yang disebut cakap. Orang yang cakap tidak berarti ia harus mampu dalam hal-hal teknis. Kalau saja ia mampu mengelola orang ia juga bisa dikatakan cakap. Dan untuk bisa cakap, maka diri harus sering dilatih, wawasan dan keterampilan dikembangkan secara kontinu dan sistematis sehingga memiliki kesiapan memadai dalam menghadapi hidup. Dengan cara ini, kelalaian dan kecerobohan sebagai biang kesalahan dan kegagalan dapat diminimalisasi.Nilai lebih kejujuran dan kecakapan akhirnya terbangun dengan kreasi dan inovasi. Bisa jadi ada orang yang jujur dan cakap, namun sedikitpun ia tidak kreatif-inovatif. Sebaliknya ada yang kreatif maupun inovatif tetapi ia tidak jujur dan cakap. Kreatif dan inovatif bisa memunculkan prestasi. Akan tetapi prestasi itu sendiri harus ditunjang oleh karakter individunya sendiri.Karenanya, bila ketiga hal yang tampak sepele ini tak ada pada seseorang, maka kredibilitasnya patut dipertanyakan.n mns/mqp ( Republika)
Lihatlah cermin kotor. Apa yang terlintas dari benak kita? Yang pasti wajah kita takkan tampak saat kita becermin. Sehingga, bagaimana mungkin kita bisa melihat wajah tampan atau cantik kita --sebuah wajah yang membuat kita berseri.Islam, melalui ritual shalat, sebenarnya telah mengajarkan pada kita untuk hidup bersih. Perhatikan prosesinya. Dimulai dari tata cara wudhu, terutama diarahkan pada segi-segi tubuh yang banyak aktivitasnya. Dari tangan, wajah, ujung rambut, hingga ujung kaki.Kemudian dalam hal berpakaian saat shalat, dianjurkan pula yang terbaik pakaian yang kita pakai. Sebab yang kita hadapi adalah Raja Semesta Alam. Penguasa langit dan bumi. Pemberi rezeki. Penggenggam nyawa kita.Sewaktu shalat pun disarankan dengan sangat untuk tumakninah --tertib, runtut dan tidak tergesa-gesa. Semua ucapan dalam shalat didawamkan sebenar-benarnya dengan penuh ketawadhuan. Semuanya dikerjakan sesadar-sadarnya hingga berakhir dengan salam. Dari awal dimulai dengan kebersihan, diakhirinya pun bersih.Dalam kehidupan sehari-hari pun seorang Muslim hendaknya hidup dalam kebersihan. Bersih dari perilaku curang. Bersih dari dusta. Bersih dari kezaliman. Bersih dari khianat atau kemunafikan. Dan itu semua bermula dari niat dan tekad kita untuk senantiasa membersihkan hati dari semua potensi yang memungkinkannya terkotori. ( Republika )
Subscribe to:
Posts (Atom)