Buletin Hidayah Edisi Januari 2009
Buletin Hidayah Edisi Desember 2008
Buletin Hidayah Edisi November 2008
Buletin Hidayah Edisi Oktober 2008
Komputer antum belum terinstall PDF Reader?(untuk membaca file PDF)...Klik sini saja (Klik Download)
Hidup ini adalah perjuangan, senandung itu selalu melecut semangatku kala kurasakan lelah bekerja di negeri ini. Yach… berjuang untuk masa depan yang lebih baik tentunya. Bahkan demi cita-cita itu, rela meninggalkan keluarga dan negara selama bertahun-tahun. Tentu saja saat mengambil pilihan itu saya siap dengan konsekuensinya. Tegar aja, mungkin begitu bahasa kerennya. Tapi kenyataannya kala dilanda musibah, koq gak tegar ya ??
Malam itu, selesai melaksanakan shalat Isya, kurencanakan untuk menelepon ke rumah seperti biasanya, walaupun akhir-akhir ini tidak seperti biasa, karena pagi, siang dan sore terus menelepon, tapi belum sempat kuraih handpone di dahului sms yang masuk. “Kak, mamak udah gak ada, sabar ya… kak”, demikian bunyi short messege yang dikirim adikku yang terkecil. Hampir tak sanggup kulafazkan Innalillali wa inna ilaihi roji’un, untuk Ibunda tercinta kami, serasa begitu berat dan serasa tak percaya itu terjadi. Ya Allah, akhirnya Engkau ambil ibu kami saat ini, padahal selama 2 minggu terakhir kami senantiasa berusaha dan berharap untuk kesembuhannya. Dan untukku yang jauh ini, sedikit kondisi ibu membaik sudah menerbitkan harapan yang begitu besar. Ya Allah … aku sudah tidak punya ibu……
Duhai ibunda, padahal masih banyak yang ingin kulakukan untuk membahagiakanmu, masih ingin kudengar cerita bahagiamu dapat memancing ikan atau mengupas buah pinang walau tanpa penglihatan karena penyakit diabetes yang di derita. Dan masih ingin kuharapkan do’a mustajab darimu, karena do’a ibu cepat diijabah oleh Allah SWT. Ibu… kini kala kuingat dirimu, gagal kutahan air mata ini, rindu padamu hanya dapat di rasakan dalam bayang-bayang buram karena telah bertahun tak bertemu, atau hanya dapat ditatap dalam bingkai foto dikamarku. Tak dapat kulihat senyum terakhir mu, tak dapat kumandikan jasadmu, menshalatkan jenazahmu seperti saudara yang lain dan tak dapat kuantarkan ketempat peristirahat terakhirmu.
Duhai ibu, maafkan atas segala dosa dan kesalahanku selama ini hanya itu yang dapat kulantunkan dan semoga Allah menerima semua amal ibadahmu, menempatkan ditempat yang sebaik-baiknya di sisiNya.
Mungkin saudara-saudara pernah merasakan, bagaimana sedihnya takkala satu diantara anggota keluarga yang kita cintai meninggal, apalagi orangtua (karena kita hanya punya orangtua sekali), saat mereka dipanggil tanpa kehadiran kita, dan karena jarak dan waktu hingga kita tak sempat melihat dan mengantarkan keperistirahatan terakhirnya. Sedangkan kala mereka masih ada kita lupa menyisakan sedikit waktu dalam sehari untuk menelepon mereka, kita sudah merasa cukup dengan memberikan sedikit rejeki yang kita punya, padahal bukan hanya itu yang mereka butuhkan dari anak-anaknya yang jauh dan dirindukan. Semoga kejadian ini dapat membuatku dan saudara-saudaraku semua untuk merenungi, sudahkah kita cukup berbuat baik pada kedua orangtua kita ??? Ada baiknya kita bertanya pada diri kita, selagi kesempatan masih ada, dan sebelum sesal itu datang.
Suatu ketika terjadi perbincangan antara TKI si SAPROL dengan TKW si KATIYEM nama kerennya ,mereka sama-sama merantau di luar negri.Mereka bertemu di room chat disaat sama-sama iseng dalam melepas kejenuhan hari-hari sepinya.
Cuplikan ceritanya :
SAPROL : Assalamu’alikum (sapanya )
KATIYEM : Wa’alikum salam warohmatullahi wa barokatuh
SAPROL : Gimana kabarnya…
KATIYEM : Baik Akang..gimana dgn akang disana..?
SAPROL : Alhamdulillah baik juga..semoga kita selalu dlm lindungan ALLAH ta’ala.
Skrg lagi dirumah apa di WARNET ..
KATIYEM : Di WARNET Kang…kla Akang dimana ?
SAPROL : lagi dirumah temenku,kebetulan tadi abis ada acara YASINAN
KATIYEM :Wah disana juga ada YASINAN ya Kang
SAPROL : Yah..buat isi waktu aja,daripada buat jln2 atau buat hal yg tak bermanfaat/sia2
Kalo disana gmn ada ngak..kayak YASINAN ,pengajian2 rutin spt itu
KATIYEM :Ada sich..tapi aku ngak pernah ikut
SAPROL :Kenapa…kan buat nambah ilmu dan juga amal ibadah kita
KATIYEM :Iya sich..males aja lagian ngak ada waktu
SAPROL :Ya di sempat2tin ..kl males/ngak ada waktu buktinya sekarang sempat ke WARNET
Ngomong2 dah sholat ISYA’ blm nich..
KATIYEM :blm ..disini aku ngak pernah sholat Kang..( jujur an polos katanya)
SAPROL :MASYA ALLAH..Kenapa ? ( mbenggong/terkejut ketika dgr kt spt itu )
KATIYEM : AHH..NGAK TAU Kang knp juga..
SAPROL :SHOLATlah Yem..(kt SAPROL penuh harapan ) kan SHOLAT itu kewajiban bagi
Kita (beragama ISLAM.)
KATIYEM :Iya Kang ..INSYA ALLAH
Kringggg kringgggg….kring bunyi nada HP berdering,diangkatNya HP punya
Katiyem ! ( ternyata ada telp dari BOS-Nya suruh pulang )
KATIYEM : Aduh ma’af Kang..aku mau cabut dulu dsuruh plg BOSku
SAPROL : Ya silahkan…dan pesenku jgn lupa lho Yem sholatNya.
KATIYEM :OXE…Eh lupa No telpMu brapa sich..?
SAPROL : buat apa No hp ku…?
KATIYEM :Ya kalo boleh,minta ntar kl aku pgn tanya2 mslh Agama.Kayaknya Akang pintar/
Tekun ibadah.
SAPROL : Ah ngak juga sich…gimana kl No tlpku lain kali aja.Kalo mau tak kasih WEBSITE ISLAMI,disitu kamu nanti bisa liat tentang Agama dsbNya.
Ketik aja www.pumita-busan.blogspot.com
www.myquran.org
www.islamicfinder.org
www.radiorodja.com dan masih buanyak lagi.
KATIYEM :Wah makasih sekali ya Kang!Dah aku mau plg dulu..Wassalamu’alaikum Wr.Wb
SAPROL :Ya..Yem hati-hati di jln .Wa’alaikum salam Wr.Wb
Belum sempat panjang lebar percakapan mereka,sudah diundang oleh nada dering HP berbunyi
Dari BOSnya KATIYEM.Wah ternyata ada hikmahnya dibalik semua itu.antara lain :
- Chatting tidak semuanya menjadikan keburukan (tinggal orangnya) bisa juga sebagai media da’wah.Cari ilmu yb bisa Bermanfaat di dunia dan berarti bagi Akherat nanti
.
- Chatting ingat waktu sholat…(tu lebih baik) terkadang kalo udah di dpn komptr.kita duduk ber jam jam,tapi meluangkan waktu sedikit buat sholat kadang tdk sempat.
- Walaupun kita belum benar/baik,paling tidak kita berkeinginan agar orang lain bisa
Menjadi baik .
Semoga ALLAH selalu melindungi kita,menguatkan keimanan kita di Perantauan.Dan semua
Kebenaran hanyalah milik ALLAH semata.
Wallahu a‘lam
" Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah
(sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)”
Di bulan Dzulhijjah ini ada 2 moment yang penting bagi umat Islam, yaitu ibadah haji dan berkurban. Bagi kita yang hingga saat ini belum dapat melaksanakan ibadah haji tentu mempunyai keinginan untuk berkurban sebagai tanda ketaatan kita kepada perintah Allah SWT. Karena ibadah Qurban merupakan salah satu ibadah yang di syari’atkan dalam islam. Ibadah ini mempunya dua asp다, yaitu yang berhubungan dengan Allah dan yang berhubungan dengan manusia. Tentu saja ini adalah salah satu bentuk tarbiyah dzatiyah (pembinaan diri) untuk mengikis gejala-gejala penyakit kikir, cinta dunia dan kufur nikmat. Lalu dengan ini pula seorang muslim diajak untuk memperhatikan saudaranya, karena masih banyak muslim lain yang belum bisa menikmati hewan kurban pada hari-hari biasa dengan berbagai alasan. Begitu pentingnya berqurban ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami. (HR. Ahmad dan Ibn. Majah).
Kita yang tentu saja punya kelebihan dari segi financial (kalau boleh dikatakan) dengan penghasilan yang lumayan cukup untuk ukuran kalangan menengah kebawah tentu saja, masing-masing kita pasti punya keinginan untuk melaksanakan 2 ibadah itu. Tapi gimana yah … ini
Masih banyak yang sulit untuk melaksanakan ibadah yang satu ini walaupun hanya setahun sekali, padahal begitu banyak pahala yang dijanjikan Allah apabila kita dapat melaksanakannya.
Trus apakan makna berkurban sama dengan berkorban ? Nah… untuk berkurban mungkin kita harus mengorbankan suatu keinginan yang sangat mendesak dan kita perlukan. Tapi ikhlaskah kita apabila kita harus mengorbankan kebutuhan yang sudah sangat mendesak demi mempersembahkan bukti kecintaan dan ketaqwaan kita kita kepada Allah ?
Kalau yang ini tentunya kita tanya niat dong…, mungkin kita nih lagi punya niat beli barang, uang sudah dikumpulin dari sisa-sisa uang saku bulan kemarin. Tapi gimana nih… udah keburu Idul Adha, uang untuk kurban belum disisihkan lagi. Yah… udah deh … korbankan dulu keinginan beli barangnya, ntar
Oleh: Haznan Abimanyu
“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS Asy Syura (42) ayat 27)
Kalau kita perhatikan, setiap hari dipagi hari orang lalu lalang dijalan, begitu juga disore/malam hari.
“dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malammu sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,” (QS An Nabaa (78) ayat 9-11)
Apa sih rezeki/rizki itu? Apakah kalau kita mendapat gaji/pendapatan sebesar 1,5 juta won, itulah rizki kita? Atau sebaliknya apakah kalau kita hanya mendapatkan 300.000 won, itu adalah rizki kita? Jawabnya TIDAK. Rizki adalah apa yang datang dari Allah yang dapat dimanfaatkan, untuk yang baik atau buruk, halal atau haram. Jadi rizki kita adalah sebesar apa yang bisa kita manfaatkan untuk diri kita, selebihnya bukan rizki kita, boleh jadi rizki orang lain, istri, anak, orang tua, saudara, dll. Misalnya, kita mendapatkan uang 1 juta won/bulan, yang bias kita manfaatkan untuk makan, beli pakaian, sepatu, dll. hanya habis 500.000 won. Nah, itulah rizki kita, selebihnya? Tergantung kita berikan kepada siapa. Jadilah uang itu rizki bagi orang yang kita beri.
Bagiaman kita mendapatkan rizki? Rizki bisa mendatangi kepada kita atau kita yang mendatangi rizki. Rizki yang mendatangi kita adalah rizki yang diberikan kepada kita oleh seseorang, misalnya hadiah. Sedangkan rizki yang kita datangi adalah rizki yang kita peroleh dari tempat kita bekerja mendapatkannya. Namun, kita tidak tahu dimana sumber rizki bagi kita. Oleh karena itu kita harus mencarinya dimana saja, bukan hanya menunggunya mendatangi kita. Bisa jadi rizki kita bukan berada ditempat kelahiran kita, bisa jadi juga bukan ditempat kerja kita. Betapa banyak kita melihat orang bekerja siang dan malam, taoi tidak mendapatkan apa-apa, seperti kasus TKI/TKW yang kita bisa baca diberita-berita.
Bisa jadi kita sudah membanting tulang untuk bekerja, tapi kita tidak mendapatkan yang kita harapkan (sedikit), sebaliknya orang yang kerjanya santai, tapi mendapatkan uang yang banyak. Apakah rizki salah alamat? Tidak, rizki tahu alamat pemiliknya, dia tidak akan salah alamat, karena Allah sudah menentukannya.
“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Hud (11) ayat 6)
Kalau kata orang betawi, “Rizki gak kemane-mane …”
Banyaknya rizki yang kita terima juga sudah ditentukan Allah semasa kita masih dalam perut ibu kita, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
"Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya." (HR. Al-Bukhariy no.3208 dan Muslim no.2643 dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu)
Mengenai besarnya yang kita terima ketika kita hidup didunia, ayat pertama diatas sudah menerangkan, bahwa Allah menurunkannya sesuai ukuran buat kita masing-masing. Kalau kita dapatnya sebesar A, maka itulah ukuran dari Allah. Kalau diberikan lebih, maka kita akan melampaui batas. Lupa untuk bersyukur, beribadah, dll. Atau kalau kita mencari yang lebih dari ukuran, maka kita bisa terjerumus kepada hal-hal yang diharaman, menipu, mencuri, korupsi, dll. Nau’dzu billahi mindzalik.
Oleh karena itulah, kita sebagai muslim tidak boleh takut/khawatir terhadap rizki kita. Semua sudah ada batasannya, tinggal kita mencarinya saja. Juga dalam mencari rizki, bukan mendapatkan sebanyak-banyaknya penghasilan. Tapi kejarlah/carilah rizki yang berkah.
Apa rizki yang berkah itu?
(jangan kemana-mana dulu, nanti
oleh: Haznan Abimanyu
Apa yang harus kita lakukan agar rizki yang kita dapatkan menjadi berkah?
Pertama, yakinlah bahwa mencari rizki yang halal adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT. “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah (62) : 10)
Kedua, mencari rizki harus dengan cara yang halal dan barang yang diperolehpun harus halal. Menjauhi diri dari hal-hal yang dilarang syari’at seperti mencuri, merampok, menipu, korupsi, berjudi, dan lain-lain. Disamping itu meskipun caranya halal, tetapi kalau barang yang diproduksi/diperdagangkan tidak halal, maka rizki yang diterimapun menjadi tidak halal. Misalnya, berdagang narkoba, minuman keras, babi, dan barang-barang yang diharamkan syari’at. Begitu juga bekerja disuatu tempat yang memproduksi barang-barang yang haram. Disamping itu tidak dibenarkan bertransaksi dengan cara riba.
Ketiga, rizki yang diperoleh haruslah dibelanjakan/digunakan untuk hal-hal yang diredhoi Allah SWT. Misalnya, menafkahi istri dan anak-anak, memberi kepada orang tua dan saudara, dan berinfak dalam jalan Allah SWT. “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. (QS. Al Baqarah (2) : 215)
Pemberian rizki kepada orang yang berada dalam tanggungan kita seharusnya dikontrol, untuk apa mereka gunakan rizki yang kita berikan kepada mereka. Jangan sampai digunakan berlebihan atau mubazir, apalagi digunakan dalam rangka maksiat kepada Allah SWT, misalnya untuk membeli minuman keras atau barang-barang yang dilarang syari’at. Sebaliknya bila rizki itu diperuntukan dijalan Allah, patut kita dukung dan ditambah.
Keempat, rizki yang kita peroleh harus dikeluarkan hak-hak social, baik yang wajib dan sunnah -seperti zakat, infak, shodaqoh, wakaf-, maupun yang tathowwu’ (tambahan/sukarela), seperti hadiah, hibah, sumbangan, dll. Dengan cara seperti ini kita terbebas dari lalai kepada Allah karena harta. Berapa banyak orang yang hidup bergelimang harta tapi lupa kepada Allah, yang akhirnya hidup dalam kebimbangan dan ketakutan kehilangan hartanya. Dengan cara ini pula niscaya rizkinya menjadi berkah dan ditambah oleh Allah SWT. “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS Al Baqarah (2) : 245)
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah [166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [166] Pengertian menafkahkan "harta di jalan Allah" meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.” (QS Al Baqarah (2) : 261).
(Bersambung …)


Sudah waktunya kita untuk segera beramal, jangan sampai kita menyesal. Al-Hasan berkata, "Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di belakangnya ada kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya bersenang-senang padahal kematian dari belakangnya. "Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang baik atau husnul-khotimah dan akhir hidup yang buruk atau su'ul-khotimah. Husnul-khotimah adalah akhir kehidupan seseorang yang beriman kepada Allah dan percaya pada hari berbangkitnya manusia dengan bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah faktor utama untuk menuju husnul-khotimah. Dan ketaqwaan yang berujud amal sholih itu adalah wujud dari keimanan. Contoh husnul-khotimah adalah seseorang yang mati dalam memperjuangkan kalimat Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala atau sesorang yang akhir amalannya dalam taat pada Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala. Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya: "Siapa saja yang mengucapkan 'Laa ilaaha illaLlaah' pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah, maka ia akan masuk surga. Siapa saja yang berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah , maka dia akan masuk surga. Dan siapa saja yang bersedekah pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah, maka ia akan masuk surga. "(HR: Ahmad V/391).
