Sunday, October 21, 2007

Kematian Datang Tanpa Permisi




Kematian itu milik semua orang. Dan kematian itu datangnya tiba-tiba. Malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa itu tidak pernah ber-assalaamu'alaikum atau ber-kulonuwun (permisi) pada orang yang akan ia cabut nyawanya. Kita tidak tahu kapan ia datang, dan jika ia datang pun kita tak bisa menolaknya. Padahal jika kita mati, babak baru hidup kita pun dimulai. Waktu hidup, kita bisa mempersiapkan diri untuk hari kiamat, tapi jika sudah mati, kesempatan itu musnah sudah.
Sudah waktunya kita untuk segera beramal, jangan sampai kita menyesal. Al-Hasan berkata, "Mengherankan. Orang masih sempat tertawa padahal di belakangnya ada kobaran api (neraka), dan masih sempat-sempatnya bersenang-senang padahal kematian dari belakangnya. "Dalam kenyataannya ada dua macam akhir hidup, yaitu akhir hidup yang baik atau husnul-khotimah dan akhir hidup yang buruk atau su'ul-khotimah. Husnul-khotimah adalah akhir kehidupan seseorang yang beriman kepada Allah dan percaya pada hari berbangkitnya manusia dengan bermodalkan taqwa. Jadi iman dan taqwa adalah faktor utama untuk menuju husnul-khotimah. Dan ketaqwaan yang berujud amal sholih itu adalah wujud dari keimanan. Contoh husnul-khotimah adalah seseorang yang mati dalam memperjuangkan kalimat Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala atau sesorang yang akhir amalannya dalam taat pada Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala. Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya: "Siapa saja yang mengucapkan 'Laa ilaaha illaLlaah' pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah, maka ia akan masuk surga. Siapa saja yang berpuasa pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah , maka dia akan masuk surga. Dan siapa saja yang bersedekah pada akhir hidupnya untuk mencari ridha Allah, maka ia akan masuk surga. "(HR: Ahmad V/391).




Sedangkan su'ul-khotimah ialah apabila sewaktu akan meninggal dunia seseorang didominasi oleh perasaan was-was yang disebabkan keragu-raguan atau keras kepala atau ketergantungan terhadap kehidupan dunia yang akibatnya ia harus masuk ke neraka secara kekal kalau tidak diampuni oleh Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala. Sebab-sebab su'ul-khotimah secara ringkas antara lain adalah perasaan ragu dan sikap keras kepala yang disebabkan oleh perbuatan bid'ah (perkara dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh Nabi shallallahui 'alaihi wa sallam), menunda-nunda taubat, banyak berangan-angan tentang kehidupan duniawi, senang dan membiasakan maksiat, bersikap munafik, dan bunuh diri.Ibnu Qayyim menyebutkan dari salah seorang saudagar bahwa seseorang di antara kerabatnya sebelum meninggal dunia ditalqin untuk mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. Namun ia justru mengucapkan, " Barang ini murah. Barang pembelian itu bagus. Yang ini begini, yang itu begitu...." dan begitu seterusnya hingga ia mati.Beliau menyebutkan pula bahwa ada seorang lelaki penggemar musik sedang dalam keadaan kritis lalu ditalqin agar mengucapkan kalimat tauhid, Laa ilaaha illaLlaah. Tetapi ia justru menyenandungkan lagu, "Naanana...naanana..." hingga ia mati.Ibnu Rajab Al-Hambaly mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Rawwad sebagai berikut, "Aku pernah melihat seorang lelaki yang dituntun untuk membaca kalimat syahadat menjelang ajalnya. Namun tragisnya, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang justru mengingkari kalimat syahadat, sehingga ia mati dalam keadaan seperti itu. Ketika kutanyakan siapa dia sebenarnya, ternyata dia adalah peminum minuman keras" Abdul-Aziz lalu berkata pada para pelayat, " Takutlah kalian dari berbuat dosa. Sebab dosa-dosa itulah yang mencampakkan dia seperti itu. "Syaikh Al-Qahthany bercerita, " Pernah aku memandikan mayat. Baru saja kumulai, mendadak warna kulit si mayat berubah jadi hitam legam, padahal sebelumnya putih bersih. Dengan rasa takut aku keluar dari tempat memandikan. Lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki. Aku bertanya,"Mayat itu milikmukah ?" Ia jawab, " Ya," Aku bertanya lagi, "Apa ia ayahmu?" Ia menjawab, " Ya." Aku bertanya, " Kenapa ayahmu itu sampai begini?" Ia menjawab, " Sewaktu hidupnya ia tidak sholat." Maka aku katakan kepadanya, " Urusi sendiri ayahmu, dan mandikanlah ia ! "Ibnu Qayyim berkata, " Abu Abdullah Muhammad bin Zubair Al-Haiany bercerita pada kami, bahwa suatu hari selepas Ashar ia keluar rumah untuk berjalan-jalan di taman. Menjelang matahari tergelincir, ia meratakan sebuah kuburan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bola api yang telah menjadi bara dan di tengahnya ada mayat. Dia usap-usap matanya seraya bertanya pada dirinya, apakah hal ini mimpi atau kenyataan. Setelah melihat dinding-dinding kota Madinah, ia baru sadar bahwa hal ini suatu kenyataan.Dengan rasa takut dan tubuh gemetar, ia pulang. Ketika keluarganya menyuguhi makanan, ia tidak kuasa memakannya. Setelah cari info ke sana ke mari, akhirnya diperoleh jawaban bahwa kuburan itu adalah kuburan penguasa yang zalim yang suka korupsi yang kebetulan mati hari itu."Kita mohon perlindungan Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala dari su'ul-khotimah. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti, apakah baik atau buruk. Karena itu hendaknya kita instropeksi diri terhadap iman dan taqwa kita. Orang-orang sholih zaman dahulu pun takut akan keburukan akhir hidup mereka. Sufyan Ats-Tsaury sering menangis sendiri dan berkata, " Aku begitu takut kalau dalam suratan takdir aku tercatat sebagai orang yang celaka. Atau imanku lepas ketika akan menghadapi maut." Ketika ajal hampir menjemputnya, Ibrahim An-Nakha-i menangis seraya berkata, " Bagaimana aku tidak menangis pada saat aku menanti utusan Tuhanku, apakah membawa berita bahwa aku ke sorga, ataukah ke neraka ?"Ketika Abu 'Athi'ah menjelang wafat, ia menangis dan ketakutan. Orang-orang bertanya, " Mengapa Anda ketakutan ?" Dia menjawab, " Bagaimana mungkin aku tidak takut pada detik-detik seperti ini dan kemudian aku akan dibawa ke mana, aku tidak tahu. " Begitulah kehidupan orang-orang saleh terdahulu. Walau pun sudah terkenal kesalehannya, namun tetap saja mereka takut pada su-ul khotimah.Lalu bagaimana dengan kita ? Sudah pantaskah kita untuk tidak merasa takut akan su'ul-khotimah ? Padahal mereka, para salafush-sholih, yang tentu lebih baik agamanya dari kita pun masih merasa takut akan su'ul-khotimah.Lalu jika kita ingin mati dengan husnul-khotimah dan tanpa su'ul-khotimah, apa yang harus dilakukan? Simak hadits ini: Dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya: "Setiap diri yang telah dihembuskan nyawanya, maka Allah telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka" Lalu ada seorang shahabat yang bertanya, " Ya Rasululloh, kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita pasrah pada apa yang telah ditentukan kepada kita dan kita tidak usah beramal ?" Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda," Beramallah! Masing-masing akan diberikan kemudahan trehadap apa yang telah diciptakan untuknya. Adapun yang termasuk orang-orang yang bahagia, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang bahagia. dan adapun yang termasuk orang-orang yang celaka, maka Alloh akan memudahkannya melakukan amalan orang-orang yang celaka." Kemudian beliau membaca firman Alloh: " Adapun orang-orang yang memberikan (hartanya pada jalan Alloh) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami kan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (QS: Al-Lail: 5-10 )" (HR: Al-Bukhary dan Muslim)Begitulah jawabannya. Tetap saja kita diperintahkan untuk beramal sholih, walaupun celaka atau bahagianya kita telah ditentukan sejak kita masih di rahim ibu. Sebab siapa saja yang bertaqwa dan beriman, Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala akan memudahkan beginya jalan menuju bahagia. Dan tentu saja kita juga harus menjauhi amal-amal buruk agar Alloh Subhaanahu Wa Ta'ala menghindarkan kita dari jalan yang celaka.Tentu saja, beramal sholih dan menjauhi maksiat itu ada cara-cara yang jitu untuk melakukannya. Siapa yang mengetahui cara-cara tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan tentu ia akan bahagia. Maka sudah sewajarnya kita berlomba-lomba mencari tahu cara-cara tersebut lewat bertanya, membaca buku-buku agama, dan tentu saja dari materi-materi di majelis pengajian. Wallahu ‘Alam. MediaMuslim.Info
Sunday, October 7, 2007

RAMADHAN DI KERAJAAN KITA

Oleh : Bpk.dr.Supangat

Dalam beberapa hari terakhir ini suasana kerajaan tampak istiwewa, dari raja hingga punggawa, laki laki mupun perempuan, semua nampak lebih ceria. Malam malam di ujung kota yang biasanya sepi kinipun ramai pada beronda.
‘sahur, sahur…………………….tok ttok tok
Sahuuurrrr …….. sahur…………………..
Bahkan ada yang sambil nyanyi : sahur sahur sahur dulu, mumpung masih ada waktu, sahur sahur sahur dulu keburu subuh………………..pokonya seru deh. Saasana itu lebih lengkap karena hariini raja kita tercinta mengundang semua rakyat untuk buka bersama. Sehingga rakyatpun berduyun duyun menuju istana. Sssttt mari kita dengar pidato raja
Raja : Bapak bapak, ibu ibu seluruh rakyat kerajaan yang berbahagia, hari ini kita sudah memasuki pertengahan bulan puasa, tentunya bapak ibu sekalian sudah mulai terbiasa dengan berbuasa, dan pada hariini sebelum kita berbuka bersama sama mari kita dengarkan ceramah singkat penasehat kesehatan kita yang akan menyampaikankiat kiat agar tetap bugar disaat puasa. Kepada penasehat saya persilahkan langsung saja dan mohon tidak bertele tele , ini selak kesusu mau buka puasa .
Penasehat: wah baru kali ini ada raja merangkap pembawa acara, pakai nyusu nyusu lagi….
Penasehat: emh tapi baiklah sesuai dengan titah raja maka saya hendak sedikit menyampaikan beberapa kiat untuk tetap bugar disaat puasa , dan sesuai dengan wanti wanti raja juga saya tidak akan berpanjang lebar apalagi luas, nanti keburu petugas pemukul beduk memukulkan beduknya.
Penasehat: Sebelum saya menyampaikan kiat, saya akan bertanya , apakah kalau sedang puasa semua pada merasa lemes?
Rakyat : yaaaaaa………………….
Penasehat: sama , saya juga lemes, tapi sebenarnya rasa lemes kita itu apalagi lemes pas pagi atau siang hari , maka lemes kita tidak disebakan karena kita kurang makan , karena disaat kita tidak puasapun kadang kita tidak sarapan dan tidak makan apa apa sampai siang tapi tidak merasa lemeskan, itu tandanya kalau sebenarnya yang menjadikankita lemes dipagi dan siang hari saat puasa bukan karena kurang makan, baru ketika sore hari kita lemes itu yang disebabkan cadangan makanan di perut kita sudah mulai kosong.
Rakyat : kalau gitu lemes karena apa dong?
Penasehat: paling tidak ada 3 sebab kita menjadi lemes saat puasa :
1. kurang tidur : biasanya disaat bulan puasa kita merubah jadwal kita malam hari yang biasanya tidur cepat , disaat bulan puasa kemudian menjadi tidur lambat, sebenarnya bukan karena menjalankan sholat tarawih atau tadarus qur’an wong sebenanya kalau tarawih dan darus bisa kok selesai sebentar dan kemudian tidur lagi, Cuma kan biasanya habis tadarus terus cerita sana sini , nah itu yang lama dan itu juga yang mmebuat mengantuk kan paling baru tidur setelah jam 12 malam atau bahkan setelah jam 1 , udah gitu haru bangun sahur kan. Yang mestinya sahur itukan jam 4 gitu tapi karena takut makannya sedikit terus bangunnya jam setengah tiga terus masak masak segala macam ya jadi berlama lama lagi kan mangkanya jumlah jam tidurnya menjadi kurang banyak, ya kalau udah ngantuk begitu ya tentu saja lemes meskipun perut kenyang.
2. Salah makan : sudah menjadi rahasia kita bersama bahwa ketika buka puasa kita rasanya ingin makan sebanyak banyaknya , kolak,kurma, es-the, sirup, melon, nanas, apel, semangka nasi sayur, roti ,kimci, bogembab,bimbimbab, denjangcige, ramyon, udong dan semua maunya dimasukkan , wah wah bayangin saja kalau usus kita yang segitu segitu saja it uterus kita paksa isi dengan makanan sebanyak itu dalam waktu bersamaan kan ya kepayahan terus menjadi ngantuk dan lemes dan efek lemesnya ini akan kebawa sampai pagi bahkan sammpai siangnya lho.
3. salah kebiasaan : hal lain yang juga penting adalah kebiasaan kita diluar bulan puasa , kita sih kalau sudah tidak bulan puasa tidak pernah puasa, tidak pernah sholat malam , mestinya kan tidak diluar bulan puasa kita tetap saja rutin puasa dan rutin sholat malam sehingga disaat ramadhan tidak kaget, wah kan udah biasa tuh lapar ama ngantuk sehingga gak bikin badan lemes
Penasehat: jadi gitu kiatnya agar kita tidak lemes ya jangan sampai kurang tidur, kendalikan makan kita jangan berlebihan dan biasakan puasa dan sholat malam diluar bulan ramadhan , sehingga selama puasa kita tetap bugar dan tetap giat bekerja sehingga sajang tidak marah marah , dan lebih penting lagi sajang tidak marah sama tuhan mosok tuhan dimarahi sajang karena tuhan melarang orang makan saat puasa ?
Kita mesti tunjukin bahwa kita tetap produktif dan bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik walau kita sedang berpuasa .
………………….tok tok tok dung duing dung……………………………………………
Rakyat : wah sudah beduk nih
Penasehat : iya mari kita buka
Raja : iya mari kita berbuka di ruang tengah sudah disediakan , dan sesuai pesan penasehat tadi maka silahkan ambil secukupnya janganberlebihan .

Oleh : Atea- Korea


“ Setiap habis Ramadhan

Hamba rindu lagi Ramadhan

Saat - saat padat beribadah

Tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis Ramadhan

Hamba cemas kalau tak sampai

Umur hamba di tahun depan

Berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan

Rindu hamba tak pernah menghilang

Mohon tambah umur setahun lagi

Berilah hamba kesempatan

Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan

Sekeluarga, sekampung, senegara

Kaum muslimin dan muslimat se-dunia

Seluruhnya kumpul di persatukan

Dalam memohon ridho-Nya “

Syair dari Bimbo tadi mengingatkan kita bahwa tak lama lagi bulan mulia ini akan berlalu. Memasuki hari-hari akhir ramadhan beberapa dari kita mungkin baru menyadari betapa kurangnya ibadah yang kita lakukan di bulan suci ini. Apakah kita termasuk orang yang berhasil meraih keutamaan ramadhan atau justru kita termasuk orang yang gagal dalam menjalankannnya? Marilah kita telaah bersama.

Telah disebutkan dalam salah satu hadits, rasulullah bersabda “Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga...”. dari sini jelas sekali bahwa di bulan puasa ini kita tidak hanya dituntut untuk menahan lapar dan dahaga saja, tetapi lebih dalam ke arah spiritual dan membangun kepribadian diri yang kuat.

Memang hanya hak Allah untuk menilai ibadah hambanya, khususnya ibadah puasa. Namun kita juga bisa sedikit mengambil beberapa parameter untuk mengukur diri kita apakah kita termasuk orang yang bisa meraih keutamaan di bulan ramadhan. Beberapa tanda kegagalan menjalankan ibadah puasa adalah:

PERTAMA, ketika target pembacaan Al-Qur’an yang dicanangkan minimal satu kali khatam, tidak terpenuhi selama bulan ramadhan. Di bulan ini, pembacaan Al-Qur’an merupakan bentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Pada bulan inilah tersebut malam lailatul qadar.. Pada bulan ini pula Jibril as biasa mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW.

Orang yang berpuasa dibulan ini, sangat dianjurkan memiliki wirid Al-Qur’an yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Kenapa minimal harus dapat mengkhatamkan satu kali sepanjang bulan ini? Karena itulah terget minimal pembacaan Al-Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

KEDUA, Ketika berpuasa tidak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang lain, mengeluarkan kata-kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dan sebagainya. Seperti yang sudah banyak diketahui, hakikat puasa tidak terletak pada menahan makanan dan minuman masuk masuk kedalam kerongkongan. Tapi puasa juga mengajak pelakunya untuk bisa menahan diri dari berbagai penyimpangan, salah satu yang dilakukan oleh mulut. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia-sia. (HR. Bukhari).

KETIGA, ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram. Mata adalah penerima informasi paling efektif yang bisa memberi rekaman kedalam otak dan jiwa seseorang. Memori informasi yang tertangkap oleh mata, lebih sulit terhapus daripada informasi yang diperoleh oleh indra yang lainnya. Karenanya, memelihara mata menjadi sangat penting untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari berbagai kotoran. Salah mengarahkan pandangan, bila terus berulang akan menumbuhkan suasana kusam dan tidak nyaman dalam jiwa dan pikiran.

Ini sebabnya mengapa Islam mewasiatkan sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat mata. Apalagi di Negara Korea yang lingkunganya tidak islami dan fasilitas internetnya sangat mudah untuk diakses mengharuskan kita untuk menjaga pandangan sebaik mungkin.

Puasa yang tak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri. Karenanya, boleh jadi secara hukum puasanya sah, tapi substansi puasa itu tidak akan tercapai.

KEEMPAT, ketika malam-malam ramadhan menjadi tak ada bedanya dengan malam-malam selain Ramadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do’a-do’a tertentu. Ibadah shalat di bulan Ramadhan yang biasa disebut shalat tarawih, merupakan amal ibadah khusus di bulan ini. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga.

Telah dikisahkan bahwa para sahabat dahulu, berlomba untuk bisa melakukan shalat tarawih di belakang Rasulullah. Umar bin Kaththab bahkan beriztihad untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat, sehingga kaum muslimin lebih termotivasi untuk menghidupkan malam Ramadhan.

KELIMA, jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan “balas dendam” dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari. Bila ini terjadi, berarti nilai pendidikan puasa akan hilang.

Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikan bagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. “Puasa itu adalah perisai”sabda Rasulullah SAW

dari hadist Imam Bukhari. Hanya dalam puasalah, seseorang dilarang melakukan perbuatan yang sebenarnya halal dilakukan. Hasil pendidikan itu, akan tercermin dalam pribadi orang-orang yang lebih bisa bersabar, menahan diri, tawakal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan.

Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah dalam unsur pendidikannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan saat terbuka.

KEENAM, ketika bulan ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah. Rasulullah SAW seperti digambarkan dalam hadits, menjadi sosok yang paling murah dan dermawan di bulan Ramadhan. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat di banding bulan-bulan lainnya. Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan.

KETUJUH, ketika hari-hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibuk dengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada 10 malam terakhir untuk memperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk bisa merayakan idul fitri dengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah dengan bulan mulia tersebut.

Rasulullah dan para shabat mengkhususkan 10 hari terakhir untuk berdiam didalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah, dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, saat diturunkannya Al-Qur’an.

Pada detik-detik terakhir menjelang usainya ramadhan, mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan bulan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah dengan bulan mulia. Ada juga yang bergumam jika mereka dapat merasakan Ramadhan sepanjang tahun.

KEDELAPAN, ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari ”merdeka” dari penjara untuk melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena ini sebenarnya hanya akibat dari pelaksanaan puasa yang tidak sesuai dengan adabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai beban dan keterkungkungan.

KESEMBILAN, setelah ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindaklanjuti pada bulan-bulan selanjutnya. Misalnya memelihara kesinambungan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal dan puasa-puasa sunah lainnya, shalat malam, membaca Al-Qur’an, ataupun bersedekah dan berinfak.

Amal-amal ibadah satu bulan ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkatkan untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikan amal-amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam satu bulan di bulan ramadhan.

Akhir kata, marilah kita perbaiki diri kita di penghujung bulan ramadhan ini, dan kita tingkatkan kualitas kepribadian kita agar kita mampu meraih keutamaan bulan ramadhan.

Atea (dari berbagai sumber/ICMI)


Oleh : Hasnan Abimanyu


Sabar ada batasnya”, begitu kata orang. Akan tetapi menurut Allah sabar tidak ada batasnya, QS Ali Imran (3):200. “Ishbiru, wa Shobiru”, sabarlah dan tingkatkan kesabaranmu. Itulah perintah Allah SWT, sehingga dalam menjaga kesabaran kita dituntut untuk meningkatkan kesabaran.

Sabar, merupakan kata yang banyak disebut dalam Al Qur’an, kira-kira sebanyak 79 kali di berbagai ayat didalam AlQur’an. Adapun kesabaran merupakan kepribadian seorang mukmin, sebagaimana hadits Rasulullah saw.: “Aneh, kepribadian seorang mukmin. Segala yang menimpanya, baik baginya. Apabila dia ditimpa musibah, dia bersabar. Dan itu baik baginya. Dan Apabila diberi karunia, dia bersyukur. Dan itu baik baginya.”

Sabar juga merupakan ujian dari Allah SWT kepada kita, apakah kita menjadi orang yang mendapat petunjuk. (QS Al Baqarah (2): 155-157)


Dalam menjalankan puasa di bulan Ramadhan kita dituntut untuk selalu bersabar. Bersabar menunggu saat berbuka, sabar ketika melihat orang lain sedang makan dan minum, sabar terhadap orang yang mengajak kita bertengkar, dsb.

Selain kita bersabar dalam bulan Ramadhan ini, kita juga dituntut untuk bersabar dalam berbagai hal, sbb:

1. Sabar atas cobaan dunia. (QS Al Munafiquun (63): 9)

Banyak macam cobaan dunia, apakah itu kelaparan, kemiskinan, dll. Akan tetapi cobaan yang sangat berat dalam bersabar adalah ketika kita mendapatkan banyak kenikmatan dan karunia berupa harta. Sedikit orang yang bersyukur apalagi yang sabar atas cobaan tersebut.

2. Sabar dari keinginan nafsu (QS Ali Imraan (3): 14-15)

Banyak keinginan manusia yang ingin digapainya dan dimilikinya. Dari pasangan, anak-anak, kendaraan, rumah, harta benda, perhiasan, sawah ladang, dst. Hal ini menyebabkan orang yang ingin meraihnya tidak sabar dalam melakukannya. Terjadilah tindak kejahatan berupa korupsi, mencuri, merampok, dll.

3. Sabar dalam taat menjalankan ibadah (QS Al Hajj (20): 132)

Selain menjaga kesabaran dalam cobaan dan nafsu, kita juga dituntut untuk tetap bersabar dalam menjalankan ibadah dan dalam rangka taat kepada Allah SWT. Ada manusia yang tidak sabar dalam menja lankan ketaatan kepada Allah SWT. Merasa lelah dalam beribadah dan taat. Ketika sholat merasa lelah harus mengerjakan sholat 5 waktu sehari semalam. Merasa lelah untuk berpuasa, sehingga kalau dia berpuasa berpura-pura didepan orang atau mencuri-curi makan dan minum.

4. Sabar atas beban dakwah (QS Luqman (31): 17)

yang ringan berupa cemoohan dan ejekan, maupun yang berat berupa ancaman dan siksaan. Hal ini merupakan sunnah dari dakwah itu sendiri, sebagaimana yang dialami oleh para Nabi dan Rasul, juga pengikutnya.

5. Sabar dalam peperangan (QS Al Baqarah (2): 177 dan Al Anfal (8): 45-47)

Dalam peperangan kita dihadapkan kepada musuh dan kesulitan berupa medan, kendaraan dan sedikitnya perbekalan. Hal ini dituntut kesabaran yang tinggi bagi yang menjalani peperangan. Ketika seseorang tidak sabar, maka dia akan mengundurkan diri dari peperangan (keluar dari barisan) atau bahkan membelot menjadi antek dan mata-mata musuh.

6. Sabar dalam berhubungan dengan sesama manusia (QS An Nisaa (4): 19)

Manusia adalah makhluk sosial yang mau tidak mau dia harus berhubungan dengan manusia lainnya. Dia tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun dalam kehidupan sehari-hari kita bersinggungan dengan orang lain yang memiliki sifat, tingkah laku dan perangai yang berbeda-beda. Sangat mungkin hal ini menjadikan konflik diantara kita. Oleh sebab itu lah kita dituntut untuk bersabar dalam berhubungan dengan manusia lain di sekitar kita.

Dalam bulan Ramadhan ini yang disebut juga dengan bulan tarbiyah, dimana kita berpuasa, ditempa, ditarbiyah (didik) untuk selalu taat kepada Allah dan bersabar dalam menjalaninya, marilah kita tingkatkan kesabaran kita dalam segala sisi kehidupan kita. Semoga ibadah kita di bulan yang penuh berkah dan ampunan ini menjadikan pribadi kita pribadi yang sabar. Amiin ... Wallahu a’lam bi shawwab.


Percaya adanya Ghaib?

Oleh : Hasyim Ashari

“ Hai orang orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa “ ( QS. Al Baqarah 183 )

Kuitpan ayat tersebut seringkali kita dengar dalam majelis-majelis ta’lim terutama menjelang puasa, namun sayang hal-hal yang sering disampaikan sering kali hanya berkaitan dengan puasa secara umum, jarang sekali pembahasan terfokus pada bagian tertentu saja. Kali ini saya mencoba untuk mengupas tentang taqwa terkait dengan berbagai fenomena yang terjadi dikalangan umat Islam terutama yang berasal dari Indonesia.

Definisi taqwa berdasarkan keterangan dari salah satu bagian ayat Al Qur’an dapat ditemukan di awal surat Al Baqarah yaitu pada ayat 3 yang artinya “ Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib “. Jadi pada kesempatan ini penulis sengaja hanya membahas taqwa terkait dengan keimanan kita terhadap yang ghaib karena hal ini begitu besar pengaruhnya terhadap pola pikir umat Islam Indonesia dari kalangan miskin, kaya, awam dan intelek. Memang sejak dulu dunia timur adalah dunia mistis dan hingga sekarang hal itu tetap berlaku, namun disayangkan umat Islam banyak yang terjebak hingga tanpa sadar masuk kedalam penyimpangan aqidah, tanpa sengaja telah berlaku syirik kepada Alloh.

Percaya adanya ghaib adalah syarat mutlak untuk mendapat predikat Muttaqien dikarenakan Alloh SWT bersifat Ghoib, Jadi orang-orang yang mergukan adanya hal-hal yang bersifat ghoib perlu juga di ragukan keimanannya Kepada Alloh SWT. Akan tetapi keimanan kita akan adanya ghoib itu harus diarahkan harus sesuai dengan syari’at ajaran agama Islam. Berikut ini hal-hal yang perlu dikaji ulang apa hal ini sudah benar-benar tepat apabila hal tersebut dilakukan oleh umat Islam.

A. ZIARAH KUBUR ORANG-ORANG SOLEH
Sudah menjadi suatu yang umum di Indonesia terutama di daerah-daerah pada bulan-bulan tertentu mereka membentuk rombongan untuk ziarah kubur walisongo atau kuburan para kiai. Sesungguh ziarah kubur adalah sesuatu yang tidak dilarang bahkan itu bias menjadi sunnah apabila untuk mengingatkan kita akan kematian. Tetapi pada prakteknya ziarah tersebut banyak yang hanya menjadi alat syirik kepada Alloh SWT. Para pesrta kebanyakan dibelenggu keyakinan bahwa menziarahi makam sunan tertentu punya manfaat tertentu pula, jadi para peserta bukan ingat mati saat dikuburan wali tetapi malah ingat urusan dunia, ingin kayalah, ingin anaknya sukseslah, mereka lupa bahwa para wali itu sudah tidak bisa apa-apa, lantas dapatkah dibenarkan apabila kita minta berkah kepada wali yang sudah mati,Tentu ini adalah batil. Mungkin ada yang beralasan bahwa ini adalah wasilah (lantaran) tetapi dalam syari’at Islam tidak pernah ada dalil yang menyatakan bahwa orang mati bisa menjadi prantara antara manusia dan Alloh. Jangankan orang mati nabi saja dalam keadaan tertentu juga tidak bisa memberikan pertolongan kepada orang-orang yang disayanginya seperti nabi nuh terhadap anaknya, Nabi Luth terhadap istrinya, Nabi Muhammad terhadap pamannya (Abu Thalib). Jadi jelas mengharap berkah hanya kepada Alloh semata, tak ada yang berhak dimintai selain Dia. Mengharap karunia Alloh dengan prantara orang mati adalah dalil yang mengada-ada. Alloh sudah memberi peringatan dalam Al Qur’an “ Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh sedekat-dekatnya.” (Az Zumar 3). Jadi ayat tentang kafir Quraisy ini harus menjadi pegangan bahwa berharap sesuatu, mencari pelindung selain Alloh adalah batil dan hal itu tergolong syirik. Dan firman Alloh “Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa mempersekutukan Dia dengan sesuatu. “ (An Nisa 116). Inilah sebenarnya yang harus diikuti oleh orang-orang beriman jadi bukannya takut miskin, takut tidak naik pangkat atau yang lainnya.




B. PERDUKUNAN
Begitu maraknya perdukuna di Indonesia, bahkan dukun-dukun sampe diiklankan seperti permen. Dan sayang banyak umat Islam kita yang masih kesemsem dengan hal-hal demikian. Urusan dunia telah banyak menjerumuskan kita dalam kesyirikan. Kebanyakan mereka datang kedukun hanya karena tidak sabar atau kurang mensyukuri nikmat Alloh. Ingin naik pangkat, cepat kaya dan lain-lain, ketidak sabaran menjadikan mereka mencari jalan pintas, Nabi SAW bersabda “Siapa yang mendatangi Arraaf (tukang tenun) dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima sholatnya 40 hari (HR. MUSLIM). Begitu berat hukuman bagi orang yang pergi ke dukun namun hal ini sering dilalaikan oleh umat kita, Firman Alloh “Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar semburan api yang terang“ (Al Hijr 18). Berdasarkan firman Alloh tersebut bisa diketahui bahwa ada rahasia-rahasia ghoib yang bisa tercuri oleh syaitan dan tentunya dipakai sebagai alat untuk menjalankan misi syaitan yaitu menyesatkan manusia. Dan hal ini telah di Firmankan “Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) ( QS. Al an’am 112 ). Dari ayat tersebut syetan itu berasal dari dua golongan yaitu dari jin dan manusia. Maka dari itu jelas dukun-dukun yang sering bekerja sama dengan jin atau yang lainnya itu adalah syetan bagi orang-orang beriman apabila kita sampai mempercayainya maka kita perlu memperhatikan firman Alloh “Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Alloh, padahal Alloh lah yang menciptakan jin-jin itu “ (Q.S. Al An’am 100). Dengan demikian jelas bahwa urusan dengan jin baik dengan prantara dukun atau tidak buntutnya akan membawa kearah syirik, bergantung kepada bantuan jin yang juga mahluk sebagaimana manusia, dan apabila kita sampai melakukannya maka dosanya tak akan diampuni.

Lantas jika yang disampaikan dukun itu benar? Hal itu dikarenakan mereka mendapatkan berita-berita yang mencuri sebagaimana ayat yang terdahulu. Rosulullah juga pernah ditanya sahabat “Ya Rosul bukankah yang dikatakan dukun itu kadang-kadang benar ? “ jawab rosul “ Ya, tapi dari satu kebenaran akan muncul 1000 kebohongan“ jadi bisa kita bandingkan antara manfaat dan mudorot adalah satu berbanding seribu makanya perdukunan dilarang.

Oleh karena itu ada satu hal yang harus kita pegangkuat berkaitan dengan segala sesuatu yang bersifat ghoib yaitu firman Alloh “Pada sisi Alloh lah kunci-kunci semua yang ghoib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Ia sendiri..” (Q.S. Al An’am 56) Jadi seandai apapun manusia, sesoleh apapun dan dengan predikat apapun bahkan nabi sekalipun tak ada yang mutlak mengetahui ghoib. Semua hanya milik Alloh yang mutlak satu-satunya. Janganlah kekaguman saudara-saudaraku pada para kiai atau orang-orang soleh atau dukun-dukun yang dianggap berilmu menjerumuskan saudaraku semua dalam syirik nafsi. Semua manusia sama semua kelebihan hanya pemberian Alloh, tak satupun manusia punya daya kekuatan selain pemberian Alloh SWT. Hormati dan kagumi manusia sewajarnya, jangan berkelebihan, kagumilah zat yang telah menciptakan manusia soleh-soleh itu dan jangan hanya sebatas kagum dekatilah, cintailah niscaya saudaraku bisa menjadi seperti orang-orang yang punya kelebihan itu.■

Memaafkan di Iedul Fitri

Oleh :Istiani Hongkong


Kalimat alhamdulillah adalah ungkapan terima kasih atas segala berbagai karunia Alloh SWT. Kita coba meluangkan waktu untuk merenung betapa banyak anugerah yang Alloh berikan, dan semakin dihitung maka semakin sadar akan keterbatasan kita sebagai hamba. Karunia Alloh yang sangat berharga sehingga kita, pada kesempatan ini kita masih diberi umur panjang dan waktu, bisa berjumpa kembali ditahun ini guna menjalankan kewajiban sebagai umat menjalankan ibadah puasa di bulan suci. Yach..ramadhon baru saja kita lewati, bulan pelipat gandaan ganjaran amal, bulan penghapusan dosa, bulan yang lebih baik dari seribu bulan, baru saja meninggalkan kita. Duch gusti...masih adakah umur ini menjumpainya di tahun depan? Dan sekarang, diseluruh dunia khususnya umat islam, kita mengenal hari yang dimana kita saling memberi dan meminta maaf yaitu IDUL FITRI. ‘ID’ yang artinya perayaan sedangkan ‘FITRI’ berarti kembali suci. Idul Fitri merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa disertai amalan dan ibadah lainnya yaitu bertadarus al qur'an, qiyamullail, zikrullah dan berdo'a juga bersedekah. Amalan-amalan ini yang meleburkan kita dan membersihkan dosa sehingga diri kita seolah-olah kembali suci seperti bayi baru lahir tanpa noda.

Inilah moment paling afdhol untuk menguatkan tekad, mengisi hari esok dengan tutur dan tingkah laku yang lebih dekat pada taqwa. Kalau kita masih sama dengan yang lalu atau lebih buruk(nau'dubillah), jelas-jelas kerja keras kita puasa pada bulan romadhon satu bulan penuh akan sia-sia. Jika Alloh SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal kita memikirkan bagaimana caranya meminta maaf dari sesama manusia. Yach... IdulFitri, hari kemenangan bagi umat islam yang telah berjaya menundukkan nafsu amarah sepanjang romadhon dan pada pagi hari di hari raya idul fitri kita umat Islam akan berbondong-bondong pergi ke masjid untuk sholat id bersama. Seperti di Indonesia hari raya idul fitri identik dengan mudik dan moment untuk berkumpul dengan bersama. Begitu juga dengan saya sendiri yang idul fitri ini alhamdulillah bisa merayakan bersama keluarga di Indonesia, ijinkan untuk meminta dan memberi maaf pada sesama saudara, "TAQOBBALLAHU MINA WA MINKUM MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN".

Idul fitri saling memaafkan, kalau kita sebagai anak-anak biasanya bersujud dihadapan orang tua guna memohon ampunan atas dosa dan kesalahan selama ini dilakukan. Dan kalau kita orang tua memberi ampunan dan membuka pintu maaf kepada anak-anak, juga kepada sesama teman, saudara dan handaitaulan. Indahnya saling memaafkan, rasanya dunia ini damai karena
penuh ampunan, penuh maaf dan penuh berkah. Alangkah bagusnya kalau hal itu juga dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat agar kita dapat terbebas dari perasaan negatif yang sesungguhnya menyengsarakan hidupkita. Setiap kita melakukan kesalahan atas orang lain berbuat salah kepada kita, marilah segera insaf dan meminta maaf. Demikian pula jika orang lain berbuat salah kepada kita, lalu meminta maaf marilah kita memaafkan dengan ikhlas. Coba kita bayangkan kembali, kalau kita tidak mau memaafkan orang lain, ibaratnya kita membawa beban seberat 10 kg barang. Beban itu kita bawa kemana-mana setiap saat dan makin lama beban itu terasa semakin berat dan menyiksa kenyaman hidup kita. Setiap hari kita akan memendam rasa sakit hati, kecewa, jengkel, marah bahkan dendam pada orang lain yang salah dan menyakiti hati kita. Padahal kita tidak tahu apakah orang yang menyakiti kita itu sadar atau tidak. Mungkin orang itu tidak merasa menyakiti hati atau merasa tidak bersalah jadi tenang-tenag saja. Sedangkan kita yang menaruh dendam dan sakit hati justru menyiksa diri kita sendiri. Maka hal itu jadi beban dan memberati hidup kita. Maka memaafkan adalah melepaskan ikatan sehingga kita menjadi bebas. Seperti yang pernah saya baca dalam sebuah buku, ada kata bijak yang pantas kita renungkan, "JIKA ORANG LAIN BERBUAT BAIK KEPADA ANGGAPLAH ITU SUATU RIZKI, JIKA ORANG LAIN BERBUAT JAHAT KEPADA KITA ANGGAPLAH ITU ADALAH HAK MEREKA. Jadi kita merubah pikiran kita, dengan demikian kita tidak akan sakit hati, dendam atau marah dan hidup menjadi tenang dan tentram. Justru kalau ada orang yang berbuat jahat kepada kita, marilah kita jadikan cermin untuk intropeksi diri dan bercermin mencari kesalahan sendiri.

Walaupun bulan romadhon telah usai dan idul fitri ini sebaiknya menjadi amal masa depan bagi kita sebagai muslim. Ibaratnya sebuah buku adalah halaman pertama meskipun bukan berarti lari dari kenyataan di masa lalu tapi di hari kemenangan harus menjadi pemutus ketidaktahuan, kemalasan, dan kekhilafan kita sebelum romadhan. Cukup kita jadikan masa lalu sebagai pengalaman penuh makna, tak perlu dibuka berulang kali karena akan melenakan dan menyesakkan dada. Dan alhamdulillah

sebagai manusia kita dikaruniai akal dan hati selama 30 hari seharusnya cukup untuk kita merenung, mohon ampun dan memperbaiki diri dan janji Alloh AWT untuk terbebas dari api neraka selama bulan suci. Kalau ketika upaya kita menjadi insan yang lebih baik belum juga maksimal apa yang bisa meluruskan pikiran yang sering berpaling dan hati sering berbelok?

Yach..jawabannya adalah do'a yang terpanjatkan bagi sang Muqallibul qulub(membolak balik hati). Selama ini kita mungkin masih belum menjalani keampuhan do'a dengan alasan jarang dikabulkan, padahal kepasrahan dan pengharapan dalam do'a adalah senjata tercanggih yang bisa menembus arsy. Jika kita merenungkan kembali di hari raya idul fitri ini, apa yang tidak diberikan Alloh kepada kita? Harta tak berlebih tapi selalu cukup, tidak pernah masuk rumah sakit meskipun tubuh lemas karena capek kerja, dan pekerjaan yang menyenangkan meskipun karier tak kunjung meningkat, pasangan yang memahami kondisi kita meskipun tak seideal yang dibayangkan. Tanpa sadar kita telah memiliki segalanya. Ternyata walau pun selama ini kita belum mendekati Alloh dengan sepenuh hati atau separuh jiwa Sang kholik tak pernah mengabaikan hambaNya. Alloh tahu jika semua do'a dikabulkan dengan cepat atau instan mungkin kita akan menjadi manusia yang paling angkuh dan akan enggan bersujud.

Akhirnya, mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua. Walaupun romadhan telah berlalu, marilah kita menjernihkan hati, melepaskan gembok-gembok dendam dan sakit hati yang selama ini kita gendong. Semoga hidup kita dalam kemerdekaan, kebebasan serta kebahagiaan dan saling bermaafan. Wallahu A'alam bishshawaab.