Sunday, October 7, 2007

Memaafkan di Iedul Fitri

Oleh :Istiani Hongkong


Kalimat alhamdulillah adalah ungkapan terima kasih atas segala berbagai karunia Alloh SWT. Kita coba meluangkan waktu untuk merenung betapa banyak anugerah yang Alloh berikan, dan semakin dihitung maka semakin sadar akan keterbatasan kita sebagai hamba. Karunia Alloh yang sangat berharga sehingga kita, pada kesempatan ini kita masih diberi umur panjang dan waktu, bisa berjumpa kembali ditahun ini guna menjalankan kewajiban sebagai umat menjalankan ibadah puasa di bulan suci. Yach..ramadhon baru saja kita lewati, bulan pelipat gandaan ganjaran amal, bulan penghapusan dosa, bulan yang lebih baik dari seribu bulan, baru saja meninggalkan kita. Duch gusti...masih adakah umur ini menjumpainya di tahun depan? Dan sekarang, diseluruh dunia khususnya umat islam, kita mengenal hari yang dimana kita saling memberi dan meminta maaf yaitu IDUL FITRI. ‘ID’ yang artinya perayaan sedangkan ‘FITRI’ berarti kembali suci. Idul Fitri merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa disertai amalan dan ibadah lainnya yaitu bertadarus al qur'an, qiyamullail, zikrullah dan berdo'a juga bersedekah. Amalan-amalan ini yang meleburkan kita dan membersihkan dosa sehingga diri kita seolah-olah kembali suci seperti bayi baru lahir tanpa noda.

Inilah moment paling afdhol untuk menguatkan tekad, mengisi hari esok dengan tutur dan tingkah laku yang lebih dekat pada taqwa. Kalau kita masih sama dengan yang lalu atau lebih buruk(nau'dubillah), jelas-jelas kerja keras kita puasa pada bulan romadhon satu bulan penuh akan sia-sia. Jika Alloh SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal kita memikirkan bagaimana caranya meminta maaf dari sesama manusia. Yach... IdulFitri, hari kemenangan bagi umat islam yang telah berjaya menundukkan nafsu amarah sepanjang romadhon dan pada pagi hari di hari raya idul fitri kita umat Islam akan berbondong-bondong pergi ke masjid untuk sholat id bersama. Seperti di Indonesia hari raya idul fitri identik dengan mudik dan moment untuk berkumpul dengan bersama. Begitu juga dengan saya sendiri yang idul fitri ini alhamdulillah bisa merayakan bersama keluarga di Indonesia, ijinkan untuk meminta dan memberi maaf pada sesama saudara, "TAQOBBALLAHU MINA WA MINKUM MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN".

Idul fitri saling memaafkan, kalau kita sebagai anak-anak biasanya bersujud dihadapan orang tua guna memohon ampunan atas dosa dan kesalahan selama ini dilakukan. Dan kalau kita orang tua memberi ampunan dan membuka pintu maaf kepada anak-anak, juga kepada sesama teman, saudara dan handaitaulan. Indahnya saling memaafkan, rasanya dunia ini damai karena
penuh ampunan, penuh maaf dan penuh berkah. Alangkah bagusnya kalau hal itu juga dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat agar kita dapat terbebas dari perasaan negatif yang sesungguhnya menyengsarakan hidupkita. Setiap kita melakukan kesalahan atas orang lain berbuat salah kepada kita, marilah segera insaf dan meminta maaf. Demikian pula jika orang lain berbuat salah kepada kita, lalu meminta maaf marilah kita memaafkan dengan ikhlas. Coba kita bayangkan kembali, kalau kita tidak mau memaafkan orang lain, ibaratnya kita membawa beban seberat 10 kg barang. Beban itu kita bawa kemana-mana setiap saat dan makin lama beban itu terasa semakin berat dan menyiksa kenyaman hidup kita. Setiap hari kita akan memendam rasa sakit hati, kecewa, jengkel, marah bahkan dendam pada orang lain yang salah dan menyakiti hati kita. Padahal kita tidak tahu apakah orang yang menyakiti kita itu sadar atau tidak. Mungkin orang itu tidak merasa menyakiti hati atau merasa tidak bersalah jadi tenang-tenag saja. Sedangkan kita yang menaruh dendam dan sakit hati justru menyiksa diri kita sendiri. Maka hal itu jadi beban dan memberati hidup kita. Maka memaafkan adalah melepaskan ikatan sehingga kita menjadi bebas. Seperti yang pernah saya baca dalam sebuah buku, ada kata bijak yang pantas kita renungkan, "JIKA ORANG LAIN BERBUAT BAIK KEPADA ANGGAPLAH ITU SUATU RIZKI, JIKA ORANG LAIN BERBUAT JAHAT KEPADA KITA ANGGAPLAH ITU ADALAH HAK MEREKA. Jadi kita merubah pikiran kita, dengan demikian kita tidak akan sakit hati, dendam atau marah dan hidup menjadi tenang dan tentram. Justru kalau ada orang yang berbuat jahat kepada kita, marilah kita jadikan cermin untuk intropeksi diri dan bercermin mencari kesalahan sendiri.

Walaupun bulan romadhon telah usai dan idul fitri ini sebaiknya menjadi amal masa depan bagi kita sebagai muslim. Ibaratnya sebuah buku adalah halaman pertama meskipun bukan berarti lari dari kenyataan di masa lalu tapi di hari kemenangan harus menjadi pemutus ketidaktahuan, kemalasan, dan kekhilafan kita sebelum romadhan. Cukup kita jadikan masa lalu sebagai pengalaman penuh makna, tak perlu dibuka berulang kali karena akan melenakan dan menyesakkan dada. Dan alhamdulillah

sebagai manusia kita dikaruniai akal dan hati selama 30 hari seharusnya cukup untuk kita merenung, mohon ampun dan memperbaiki diri dan janji Alloh AWT untuk terbebas dari api neraka selama bulan suci. Kalau ketika upaya kita menjadi insan yang lebih baik belum juga maksimal apa yang bisa meluruskan pikiran yang sering berpaling dan hati sering berbelok?

Yach..jawabannya adalah do'a yang terpanjatkan bagi sang Muqallibul qulub(membolak balik hati). Selama ini kita mungkin masih belum menjalani keampuhan do'a dengan alasan jarang dikabulkan, padahal kepasrahan dan pengharapan dalam do'a adalah senjata tercanggih yang bisa menembus arsy. Jika kita merenungkan kembali di hari raya idul fitri ini, apa yang tidak diberikan Alloh kepada kita? Harta tak berlebih tapi selalu cukup, tidak pernah masuk rumah sakit meskipun tubuh lemas karena capek kerja, dan pekerjaan yang menyenangkan meskipun karier tak kunjung meningkat, pasangan yang memahami kondisi kita meskipun tak seideal yang dibayangkan. Tanpa sadar kita telah memiliki segalanya. Ternyata walau pun selama ini kita belum mendekati Alloh dengan sepenuh hati atau separuh jiwa Sang kholik tak pernah mengabaikan hambaNya. Alloh tahu jika semua do'a dikabulkan dengan cepat atau instan mungkin kita akan menjadi manusia yang paling angkuh dan akan enggan bersujud.

Akhirnya, mudah-mudahan Alloh senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua. Walaupun romadhan telah berlalu, marilah kita menjernihkan hati, melepaskan gembok-gembok dendam dan sakit hati yang selama ini kita gendong. Semoga hidup kita dalam kemerdekaan, kebebasan serta kebahagiaan dan saling bermaafan. Wallahu A'alam bishshawaab.


0 comments: